Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Cerita Perubahan Asnawi, Teman Netra dari Desa Trebungan

Program SOLIDER yang dilaksanakan oleh SIGAB Indonesia di Jawa Timur sejak tahun 2022 bekerja sama dengan Yayasan PPDiS. Di Provinsi Jawa Timur ini, Program SOLIDER diimplementasikan pada dua wilayah, yaitu Kabupaten Situbondo dan Kota Probolinggo dengan masing-masing di 8 desa di Kabupaten Situbondo dan 6 kelurahan di Kota Probolinggo. Salah satu dari 8 desa di Kabupaten Situbondo tersebut adalah Desa Trebungan. Desa ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Mangaran dan berjarak ±5,5 km ke arah utara dari ibu kota kabupaten.


Melalui Program SOLIDER, warga difabel di Desa Trebungan didata di tahun 2022. Pendataan menggunakan instrumen WGQ. Instrumen WGQ (Washington Group Questions) adalah alat standar untuk mengidentifikasi difabel melalui pertanyaan-pertanyaan tentang hambatan, seperti melihat dan berjalan yang digunakan dalam sensus dan survei untuk data prevalensi. Pendataan yang dilakukan oleh Yayasan PPDiS ini menggunakan pendekatan pendataan sejawat di mana pengumpulan data melalui enumerator difabel yang tinggal di desa yang sama. Hasil pendataan tersebut menunjukkan bahwa terdapat 143 difabel di Desa Trebungan dengan 58% di antaranya adalah difabel laki-laki. Salah satu warga difabel yang berhasil di data di tahun 2022 ini adalah Asnawi.


Asnawi adalah salah satu warga difabel yang tinggal di Desa Trebungan. Laki-laki kelahiran tahun 1992 ini adalah bungsu dari empat bersaudara dan ia merupakan satu-satunya anggota keluarga yang difabel netra. Asnawi mempunyai hambatan penglihatan sejak ia lahir. Hal ini pula yang membuatnya kesulitan untuk mengakses layanan-layanan dasar yang diberikan oleh pemerintah, khususnya pendidikan.


Ia bercerita bahwa ia tidak mengenyam pendidikan formal apapun. Ia memang pernah ikut saudara perempuannya ke sebuah kelas saat saudarinya itu di sekolah dasar. Namun, ia hanya ikut-ikutan saja duduk di dalam kelas itu. Ia pun tidak diajari apa-apa saat itu oleh para guru di sana. Kesempatan ia untuk ikut-ikutan duduk di kelas juga tidak datang saban hari. Hal ini karena tidak setiap hari saudara perempuan Asnawi mau mengajaknya untuk ikut ke sekolah. Seingat dia, ia terakhir kali diajak ke sekolah saat saudarinya itu di kelas dua sekolah dasar. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di sekolah apapun.


Kesulitan Asnawi dalam mengakses pendidikan membuatnya menghadapi pelbagai keterbatasan khususnya dalam keterampilan dasar yang diajarkan di sekolah, semisal membaca, menulis, dan menghitung. Bahkan, waktu kecil ia tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Satu-satunya bahasa yang ia pahami dan gunakan waktu itu adalah bahasa lokal, yakni Bahasa Madura. Kesulitan mengakses pendidikan ternyata membawa ekses yang lain bagi Asnawi, yaitu ia kesulitan berbaur dengan orang-orang di lingkungannya. Ia merasa malu dengan kondisinya yang tidak sama dengan anak-anak lain pada waktu itu. Ia pun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan keluarganya sendiri.


“Saya perlahan-lahan mengerti Bahasa Indonesia dari radio, Mas,” ucap Asnawi pada saya. Orang tuanya membelikan satu unit radio kecil untuk menemani Asnawi di rumah ketika kedua orang tuanya pergi bekerja ke ladang. Belajar Bahasa Indonesia melalui radio juga membawa tantangan tersendiri bagi Asnawi. Ia belajar autodidak saja tanpa banyak dampingan dari orang-orang sekitar dia. “Saya awalnya tidak mengerti mengapa banyak ‘saya’ di (percakapan, Red.) radio,” terang ia sambil tertawa. Ia menjelaskan bahwa ia mulanya tidak tahu kalau kata “saya”, “mereka”, dan “kalian” adalah kata ganti dalam Bahasa Indonesia alih-alih nama-nama orang yang ia sangka pada awalnya.


Asnawi tinggal dengan kedua orang tuanya yang telah sepuh di rumah yang sama. Saudara-saudaranya sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Namun, salah satu saudaranya yang telah menikah itu merantau ke negeri jiran, Malaysia. Suami-istri itu menjadi pekerja migran di sana. Mereka menitipkan buah hati mereka di rumah tempat Asnawi tinggal bersama kedua orang tuanya. Walhasil, Asnawi juga harus tinggal dengan keponakan-keponakannya itu di rumah yang sama.


Hambatan penglihatan praktis membuat Asnawi tidak bisa beraktivitas jauh dari rumahnya. Alat bantu yang ia gunakan waktu itu hanya berupa tongkat kayu yang menuntunnya untuk beraktivitas. Ia memang pernah menjadi juru azan selama beberapa tahun menemani temannya yang menjadi marbut masjid di dekat Asnawi tinggal. Namun, ketika temannya itu meninggal, posisinya lalu digantikan oleh orang lain. Hari-harinya hanya berkutat antara rumah di mana ia tinggal bersama orang tuanya dan masjid di mana ia menunaikan salat lima waktu. Ia pun dulu mengaku bahwa ia sangat jarang sekali ke Kantor Desa Trebungan untuk mengikuti kegiatan desa. “Saya hanya ke kantor desa setahun sekali,” ungkapnya. “Itu pun hanya untuk menerima bantuan saja yang belum tentu kapan waktunya,” ujar Asnawi pada saya. Ia pun menambahkan, “Belum tentu setahun sekali saya dapat bantuan dan menerimanya di kantor desa.” Ia juga mengaku tidak percaya diri bila harus keluar rumah apalagi mengunjungi kantor desa bila tidak ada urusan untuk menerima bantuan, misalnya.


Sejak Program SOLIDER diimplementasikan di Desa Trebungan pada pertengahan tahun 2022, Asnawi terdata sebagai anggota KDD Trebungan. Ia mulai diajak untuk terlibat aktif di kegiatan-kegiatan atau pertemuan-pertemuan KDD Trebungan oleh Anwar Sanusi, pengurus KDD Trebungan waktu itu. Anwar Sanusi, bahkan, yang mengantar-jemput Asnawi dari rumah ke Kantor Desa Trebungan dan sebaliknya. “Mas, saya awalnya takut ke kantor desa,” cerita Asnawi. “Saya merasa kayak yang mau disidang saja,” ungkapnya mengingat perasaan dia saat awal-awal ke kantor desa bukan untuk menerima bantuan. Dengan makin intensifnya ia mengikuti pertemuan dan kegiatan KDD Trebungan serta acara yang diadakan oleh Yayasan PPDiS lainnya, Asnawi mulai bisa membaur. Ia mengungkapkan, “Ternyata, saya tidak sendirian di sini (tinggal di Desa Trebungan sebagai difabel, Red.). Ternyata, banyak teman-teman saya (warga difabel di Desa Trebungan, Red.) yang lain di sini.” Dia pun mulai membuka diri dan perlahan-lahan meningkatkan kepercayaan dirinya guna dapat bergaul dengan anggota KDD Trebungan yang lain dan warga non-difabel lain seperti perangkat desa.


Pada tahun 2024, ada perubahan struktur kepengurusan KDD Trebungan. Asnawi dipercaya untuk menempati posisi Wakil Ketua KDD Trebungan. Asnawi merasa bahwa ia belajar banyak hal ketika ia aktif di kepengurusan KDD Trebungan. Hal ini tidak ia rasakan saat ia hanya menjadi anggota KDD Trebungan semata. Ia bercerita, “Di pengurus KDD, saya tahu sekarang apa itu RAB (Rencana Anggaran Biaya, Red.), apa itu SPJ (Surat Pertanggungjawaban, Red.), dan administrasi lainnya.” Ini mengubah cara pandangnya bahwa apapun yang diterima yang bersumber dari uang negara haruslah ada pertanggungjawabannya. Ia dulu tidak pernah berpikir begitu. “Saya baru tahu ternyata bantuan apapun dari negara itu harus ada tanggung jawabnya,” bilang Asnawi pada saya sembari menyebutkan apa saja yang Pemerintah Desa Trebungan berikan kepada KDD Trebungan.


Asnawi (berbaju biru di tengah) saat memainkan peran dalam drama pada acara Pertunjukan Desa Trebungan bersama anggota Kelompok Difabel Desa Trebungan lainnya/Istimewa


Banyak hal baik yang muncul pada diri Asnawi di sepanjang tahun 2024. Selain ia mulai dapat membaur dan kian percaya diri, ia belajar hal-hal yang ia tidak dapatkan ketika masih di rumahnya saja dan belum bergabung dan aktif di dalam organisasi KDD. Ia mulai belajar mengoperasikan ponsel pintar yang ia dapat dari pemberian ponakannya dengan memanfaatkan fitur aksesibilitas. Asnawi juga mulai belajar menggunakan tongkat netra (tongkat putih/white cane) alih-alih tongkat kayu yang biasa ia pakai sejak dari kecil dan memanfaatkan aksesibilitas guiding block yang ada di beberapa titik di Kabupaten Situbondo. Pada Agustus tahun lalu, Asnawi bersama Yayasan PPDiS melakukan monitoring dan evaluasi sarana-prasarana yang ramah bagi disabilitas di lingkungan Pengadilan Negeri Situbondo. Di sana, ia mencoba guiding block yang dibangun dan memberi masukan kepada Pengadilan Negeri Situbondo berdasarkan pengalamannya mencobanya. Ia juga memberi pemahaman cara berinteraksi dengan difabel netra seperti dirinya kepada pegawai-pegawai di Pengadilan Negeri Situbondo. Pada Desember lalu, ia menjadi salah satu aktor dalam drama yang dipentaskan di acara Pertunjukan Desa (Pertudes) Trebungan ke-2. Drama ini berisi kampanye isu inklusi difabel yang mayoritas pemainnya adalah anggota KDD Trebungan.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.